Tuesday, 3 November 2015

Rindu Diperbudak

Rindu Diperbudak

Baca: Bilangan 11:4-23
Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. (Bilangan 11:5)
hkbpglugur- Tak ada orang yang mau menjadi budak. Bayangkan, budak tak memiliki hak lagi atas hidupnya. Ia tidak dapat menuntut tuannya, tak dapat pula menolak kemauan tuannya. Hidup dan matinya ada di tangan sang tuan. Ia bekerja tanpa diupah. Upahnya hanyalah pakaian, makan-minum, dan tempat berteduh. Itu pun seadanya. Bukan karena sang tuan berbaik hati, tapi karena budak yang lemah dan sakit, tidak punya arti lagi. Sungguh mengerikan, bukan? 

Namun, siapa mengira, ada orang merdeka yang rindu menjadi budak. Lihatlah sikap Bangsa Israel dalam perjalanan keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian. Sekian lama berjalan di padang gurun, tiang awan, tiang api, dan manna tidak lagi membuat mereka tercengang. Mereka pun bersungut-sungut akan nasib “buruk” yang mereka alami (ay. 1). Ya, hidup sebagai budak di Mesir, tampaknya tak cukup buruk buat mereka. Lebih baik di Mesir. Keadaannya begitu baik (ay. 18). Ada makanan yang berlimpah. Semua bisa didapat dengan tidak membayar apa-apa (ay. 5). Mereka lupa, semua itu harus dibayar dengan tetes keringat dan air mata.

Dalam perjalanan mengikut Tuhan, masalah dan pergumulan bisa datang tanpa diundang. Jangan pernah berpikir bahwa kehidupan lama kita lebih baik. Sekalipun terlihat demikian, semua itu tipuan si jahat. Semua itu akan berbuah bencana. Sebaliknya, tanamkan selalu dalam hati bahwa kehidupan baru kita jauh lebih baik. Sekalipun tidak terlihat demikian, janji Tuhan itu ya dan amin. Teruslah berjalan bersama-Nya dan nantikan penggenapan janji-Nya.—BLT

Related Posts

Rindu Diperbudak
4 / 5
Oleh

Mau Berlangganan Renungan Mingguan tiap Minggunya?

Ketik Email Anda Yang Aktif Disini