Monday, 11 January 2016

Tidak Meratapi Nasib

Baca: Roma 8:18-30
 - Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita (Roma 8:18)
Seorang pelawak di kafe menceritakan lelucon dan semua penonton tertawa. Beberapa saat kemudian, ia mengulangi lelucon itu, namun kali ini hanya beberapa orang yang tertawa. Lima menit kemudian, ia mengulangi lelucon itu lagi, dan tidak ada orang yang tertawa. Lalu pelawak itu berkata, “Bila kita tidak tertawa berulang-ulang untuk lelucon yang sama, lalu mengapa Anda terus menangis untuk masalah yang sama?”


Yusuf berulang-ulang mengalami masalah yang mirip. Ia mengalami masalah terus-menerus: dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, lalu dijual sebagai budak ke tanah Mesir. Di Mesir, ia difitnah oleh istri Potifar dan dimasukkan ke dalam penjara. Di penjara, ia dilupakan oleh juru minuman yang sudah diberi tahu arti mimpinya. Namun, Yusuf tidak menangis berulang-ulang meratapi nasibnya. Pada akhir kisah, Yusuf diangkat sebagai penguasa di Mesir oleh Firaun. Ia berkata, memang saudara-saudaranya mereka-rekakan yang jahat, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan (Kej. 50:20).

Menurut Rasul Paulus, penderitaan zaman sekarang tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan (Rm. 8:18). Penderitaan ringan yang sekarang ini kita alami mengerjakan kemuliaan kekal yang melebihi segalanya (2 Kor. 4:17).

Apakah saat ini Anda sedang meratapi nasib? Mintalah penghiburan Roh Kudus, agar tidak larut dalam kesedihan. Masalah justru berpotensi membuat kita lebih bijak, dewasa, dan kuat. Pada akhirnya, akan ada kemuliaan di balik masalah tersebut.—BLT

Related Posts

Tidak Meratapi Nasib
4 / 5
Oleh

Mau Berlangganan Renungan Mingguan tiap Minggunya?

Ketik Email Anda Yang Aktif Disini