Monday, 23 November 2015

Hidup Yang Sepadan


1 Yohanes 3:11-18
- Kita tahu bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara seiman kita. Siapa yang tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. (1 Yohanes 3:14)

Broery Pesulima pernah mempopulerkan lagu berlirik: “Di alam nyata apa yang terjadi, buah semangka berdaun sirih.” Ini gambaran sebuah kemustahilan, sesuatu yang menyalahi kodrat tanaman. 

Ganjilnya, hal itu malah terjadi pada manusia. Manusia Kristen bisa mengaku mengasihi sesama, namun buah kehidupannya amat jauh berbeda. Alangkah baiknya bila kita dapat meneladani konsistensi tanaman. Janganlah manusia menjadi aneh, bak pohon petai berbuah cabai. Repot, ruwet, menggelikan, bahkan membingungkan. Kita tidak pernah dibuat bingung oleh perlakuan tanaman, namun kita sering membuat bingung sesama manusia.

Rasul Yohanes mengingatkan, kita ini sudah berpindah dari maut ke dalam hidup. Oleh karena itu, hendaklah kita saling mengasihi. Bila tidak, kita masih berada di dalam maut walau penampilan kita amat saleh. Ini soal kenyataan yang sejati. Sebetulnya persoalannya sederhana: Hiduplah sesuai dengan rahmat yang menyapa dan mengubah hidup kita. Kasih yang melingkupi kita mesti menyala dalam kehidupan keseharian kita. Bila tidak, pasti ada yang salah dalam diri kita. Rasul Yohanes menegur, “Barangsiapa mempunyai harta dunia dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap tinggal di dalam dirinya?” (ay. 17).

Biarlah benih kasih dari Tuhan tersemai dalam hidup kita, bersemi, bertumbuh menjadi tanaman Cinta. Walaupun bunganya bisa beraneka warna, bervariasi, namun tetap bersumber dari benih yang sama.—BLT

Related Posts

Hidup Yang Sepadan
4 / 5
Oleh

Mau Berlangganan Renungan Mingguan tiap Minggunya?

Ketik Email Anda Yang Aktif Disini