Tuesday, 13 October 2015

SIAPAKAH SAYA?



Baca: Lukas 18:9-14
Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang lain itu tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Lukas 18:14)
Perumpamaan Tuhan Yesus mengenai orang Farisi dan pemungut cukai ini begitu kuat pesannya dan penuh makna. Namun, saya terbiasa membacanya tanpa mengaitkannya dengan kehidupan pribadi. Saya menempatkan diri sebagai pemungut cukai yang diperkenan Tuhan. Namun, ketika membacanya lagi suatu kali, kegelisahan melanda. Saya merasa sesungguhnya sayalah si orang Farisi!

Orang Farisi merasa dirinya baik, bermoral tinggi. Ia membandingkan diri dengan orang lain dan, dengan itu, merendahkan mereka. Jabatannya sebagai ahli kitab membuat dirinya merasa layak berdoa tanpa harus mengaku keberdosaannya. Dengan penuh percaya diri, ia melaporkan aktivitas keagamaannya. Keangkuhan menutupi mata rohaninya sehingga ia tidak melihat betapa berdosa dirinya. Sebaliknya, si pemungut cukai bukan saja menyadari dosanya, ia memohon belas kasihan dan pengampunan Tuhan. Dan, ia dibenarkan oleh Tuhan.

Bila kita tidak menyadari keberdosaan kita, bukankah kita tak ubahnya orang Farisi tadi? Keangkuhan mengikis kepekaan kita akan dosa. Kita jadi lebih mudah mencela orang lain, merasa puas oleh aktivitas pelayanan kita. Meskipun berdoa kepada Tuhan, kita seolah tidak membutuhkan Dia. Padahal, sesungguhnya kita tidak layak menghadap ke hadirat-Nya. Kita membutuhkan anugerah pengudusan oleh pengurbanan Yesus di kayu salib, agar kita beroleh keberanian menghadap takhta Allah dalam doa kita. Marilah kita merendahkan diri di hadapan-Nya, dan biarlah Dia sendiri yang meninggikan kita oleh rahmat-Nya!— BLT

Related Posts

SIAPAKAH SAYA?
4 / 5
Oleh

Mau Berlangganan Renungan Mingguan tiap Minggunya?

Ketik Email Anda Yang Aktif Disini